Showing posts with label TEORI AKUNTANSI. Show all posts
Showing posts with label TEORI AKUNTANSI. Show all posts

Thursday, August 13, 2015

Accounting Regulation and Specific Issues

Ch 14 Aset, Liabilitas dan Ekuitas Pemilik
Aset
Aset adalah manfaat ekonomis masa depan yang dikendalikan entitas dari hasil transaksi atau kejadian masa lalu
Karakteristik aset
  1. Manfaat ekonomis masa depan
    1. Melekat pada aset
    2. Potensi berkontribusi pada entitas, langsung maupun tidak
    3. Aliran kas atau kas ekuivalen untuk entitas
  2. Dikendalikan/dikuasai entitas
    1. Tidak harus dimiliki secara legal (contoh lease)
    2. Kepemilikan tidak berarti pengendalian/penguasaan
    3. Bukan konsep legal, tapi pada substansi ekonomis
  3. Hasil dari transaksi atau kejadian masa lalu
    1. Tidak termasuk aset yang direncanakan
    2. Executory contract(kontrak yang baru ditandatangani belum ada pengerjaan) tidak termasuk dalam pengertian “kejadian”
Peneliti berargumen kriteria exchangebility/dapat dipertukarkan menjadi kriteria. Dapat dipertukarkan maksudnya barang tersebut dapat dipisahkan dari entitas dan nilai pelepasannya terpisah dari nilai entitas.
Bantahan> ada goodwill, informasi goodwill berguna bagi investor, seharusnya exchangibility bukan menjadi kriteria namun cukup sebagai pendukung mengenai keberadaan aset.
Kriteria Pengakuan
  1. Probable, manfaat ekonomisnya di masa depan sangat mungkin didapat
  2. Nilainya dapat diukur secara andal


Liabilitas
Liabilitas adalah kewajiban masa kini entitas, penyelesaiannya diekspektasikan berupa arus keluar dari sumberdaya entitas yang memiliki manfaat ekonomis yang berasal dari transaksi atau kejadian masa lalu
Liabilitas tidak harus ada legal enforcability(dapat dituntut secara hukum), bisa juga dalam bentuk constructive obligations (misalnya garansi) ataupun equitable obligation atau social obligation (misalnya membersihkan lahan yang terpolusi)
Kriteria Pengakuan
  1. Bergantung pada hukum
  2. Penentuan substansi ekonomis dari kejadian
  3. Penggunaan prinsip konservatisme
  4. Kemampuan untuk mengukur nilai liabilitas
Deffered credit >?
Provision & contingencies>?
Pension>?

Behavioral Acccounting Research & Standard Setting

Ch 11 Behavioral Accounting Research
BAR adalah studi tentang perilaku akuntan dan non-akuntan ketika dipengaruhi oleh fungsi-fungsi dan laporan-laporan akuntansi
BAR  membahas mengenai informasi yang terkandung dalam laporan keuangan bagi pengguna eksternal. Jenis teori utama mengenai ini adalah Human Judgment Theory/Human Information Processing.
Tujuan penelitian dalam model ini : menjelaskan dan memprediksi perilaku pada tingkatan individu/kelompok.
Human Judgement Theory
Tujuan penelitian HJT untuk menjelaskan cara orang-orang menggunakan  dan memproses informasi akuntansi dalam pengambilan keputusan. Proses pembuatan keputusan ini disebut “model”
Ada 3 model utama dalam HJT :
  1. Brunswick lens model
Brunswik lens model digunakan sebagai kerangka analitik dan basis dari banyak penelitian mengenai pertimbangan/judgement yang berhubungan dengan prediksi(contohnya kebankrutan) dan/atau evaluasi (contohnya pengendalian internal). Peneliti menggunakan lens model untuk meneliti hubungan antara berbagai informasi dan keputusan atau prediksi, dengan melihat kesamaan dalam respon atas informasi tersebut.
Hasil penelitian brunswik model:
    1. pola penggunaan informasi di berbagai permaslaahan
    2. pertimbangan pembuat keputusan yang secara implisit pada berbagai informasi
    3. akurasi dari pembuat keputusan dibanidng dengan tingkatan keahliannya dalam prediksi dan evaluasi atas berbagai masalah
    4. keadaaan dimana sistem dan/atau model perilaku manusia lebih baik daripada manusia beneran
    5. konsistensi dari keputusan manusia dari waktu ke waktu


2. Process tracing model
Metode ini berusaha menjelaskan bagaimana keputusan dibuat. Penelitian ini dilakukan dengan cara meminta pembuat keputusan untuk menjelaskan langkah-langkah yang dibuatnya untuk mencapai keputusan. Penjelasan verbal ini kemudian dianalisis untuk dibuat “pohon keputusan”


  1. Probabilistic judgment model
Model ini berguna untuk melihat situasi dimana kepercayaan awal mengenai prediksi atau evaluasi perlu direvisi saat ditemukan bukti baru tersedia. Contohnya situasi ini adalah revisi keputusan investor dalam investasi saat mendapat informasi baru mengenai tuntutan hukum pada suatu perusahan. Model ini menggunakan teorema Bayes.


Keterbatasan BAR
Tidak adanya satu teori pokok untuk membantu unifikasi dari berbagai macam pertanyaan riset dan temuan2 BAR.

Positive Accounting Theory

Ch 9 Positive Accounting Theory & Capital Market Research
Positive accounting theory adalah cabang penelitian akuntansi yang berusaha untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi


Ketidakpuasan teori normatif
  1. Berusaha memberikan rekomendasi metode akuntansi tanpa didasari penelitian/metode empiris
  2. Memberi rekomendasi metode akuntansi secara subjektif sehingga tidak dapat difalsifikasi
  3. Gagal menjelaskan mengapa konsep biaya historis diterimasecara umum dan digunakan di berbagai keadaan


Kekuatan Positive Theory dibanding normative
  1. Teori positif diperlukan sebelum teori normatif dikembangkan, untuk memahami kejadian di dunia nyata
  2. Teori normatif tidak didasarkan pada observasi-observasi atau metode-metode yang terindentifikasi dan empiris
  3. Teori normatif tidak menghasilkan pernyataan yang dapat diuji secara empiris, fungsi tujuannya tidak lepas dari preferensi subyektif
  4. Teori normatif gagal menjelaskan mengapa prinsip-prinsip akuntansi biaya historis diterima secara umum dan digunakan dalam berbagai situasi
  5. Teori positif sebagai suatu paradigma dikembangkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan teori normatif
  6. Teori positif harus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat dibuktikan kesalahannya melalui pengujian empiris
Tujuan Teori positif
  1. Menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi bukannya menyajikan panduan/petunjuk/arahan
  2. Memastikan bahwa tidak satupun tujuan lebih superior daripada tujuan-tujuan lain
  3. Menilai praktik yang ada saat ini dengan cara sistematis
  4. Berupaya memodel hubungan antara akuntansi, perusahaan, dan pasar dan menganalisis persoalan-persoalan dalam kerangka kerja ekonomi
Kritik atas positive accounting theory
  1. Tidak memberi rekomendasi apa yang seharusnya dilakukan, hanya menjelaskan dan memprediksi apa yang akan terjadi
  2. Tidak sepenuhnya bebas dari nilai-nilai(objektif) karena hanya menjelaskan dan memprediksi  apa yang akan dilakukan orang2, mengabaikan apa yang seharusnya dilakukan
  3. Mengasumsikan bahwa manajer(agen) dan pemilik(principal) memiliki kepentingan sendiri2 untuk memaksimalkan kekayaannya tanpa mempertimbangkan efek buruknya.

Monday, May 18, 2015

ACCOUNTING THEORY - Theory and Method


Interpretasi terhadap teori akuntansi
  1. Akuntansi sebagai catatan historis
    akuntansi menitikberatkan pada penyediaan catatan yang tepat atas transaksi dari entitas
  2. Akuntansi sebagai bahasa
    akuntansi digunakan sebagai bahas untuk komunikasi dari manajemen kepada stakeholder
  3. Akuntansi sebagai politik intraperusahaan
    akuntansi digunakan sebagai dasar dalam membuat kebijakan perusahaan seperti pemilihan keputusan dan menentukan tujuan manajemen.
  4. Penetapan standar akuntansi sebagai politik
    manajemen melakukan lobi politik agar standar akuntansi yang berlaku menguntungkan dirinya
  5. Akuntansi sebagai mitologi
    akuntansi digunakan sebagai pembenaran, rasionalisasi atas keputusan. Contohnya metode biaya historis turun temurun dianggap yang benar>mitos
  6. Akuntansi sebagai sihir
    akuntansi digunakan oleh akuntan sebagai tools untuk membuat tipuan-tipuan
  7. Akuntansi sebagai komunikasi-informasi keputusan
    akuntansi digunakan sebagai komunikasi untuk mempengaruhi keputusan orang
  8. Akuntansi sebagai barang ekonomis
    akuntansi memerlukan biaya untuk mendapatkannya
  9. Akuntansi sebagai komoditas sosial
    akuntansi dapat mempengaruhi kesejahteraan sosial banyak pihak
  10. Akuntansi sebagai ideologi dan eksploitasi
    akuntansi digunakan sebagai sebuah ideologi untuk eksploitasi dan penggalian kekayaan bagi pihak-pihak tertentu
  11. Akuntansi sebagai klub sosial
    akuntansi bermanfaat bagi akuntan secara profesional dengan membuat aturan bagi "klub akuntan"
Formulasi teori
Teori adalah pernyataan kepercayaan yang diekspresikan dalam bahasa. Teori adalah sistem deduktif atas pernyataan untuk mengurangi tingkat keumuman/generalitas.
Bagian dari teori
  1. Hubungan sintaksis
    hubungan sintaksis berarti aturan struktur teori berhubungan dengan bahasa yang digunakan
  2. Hubungan semantik
    hubungan semantik berarti menghubungkan suatu konsep dasar dari teori ke objek di dunia nyata.
  3. Hubungan pragmatik
    hubungan pragmatik berarti menghubungkan teori dengan efeknya terhadap manusia.

Sunday, May 17, 2015

SISTEM AKUNTANSI (HISTORICAL, CURRENT COST, EXIT PRICE)


I. HISTORICAL COST ACCOUNTING
Dalam sistem historical cost, isu paling utama berkaitan dengan pengukuran dan pelaporan profit dalam hubungannya dengan net asset yang digunakan.
Profit dalam metode biaya historis
Dalam pandangan akuntansi tradisional:
  1. Income adalah capaian perusahaan selama satu periode.
  2. Expense adalah usaha yang dilakukan
  3. Profit adalah efektivitas perusahaan sebagai unit operasi.
Cost attach theory
Penganut paham ekonomis berargumen bahwa pengukuran suatu biaya dalam akuntansi tidak selalu tepat, terutama dalam menetukan biaya produksi untuk perusahaan manufaktur. Akuntan tradisional meyakini bahwa penggunaan historical cost dan pengalokasian nilai dapat diterima meski biaya penggantiannya naik. Sebagai balasan atas argumen paham ekonomis tersebut, disusunlah cost attach theory. Dalam teori ini terdapat 2 jenis biaya:
  1. Displacement cost (opportunity cost) adalah biaya yang sudah dikorbankan.
  2. Embodied cost (absorption cost) adalah biaya yang berkaitan dengan faktor produksi dan yang harus dilakukan untuk menyediakan input. Dengan kata lain, biaya ini adalah biaya yang melekat pada sesuatu. Total biaya yang melekat ini tidak merepresentasikan nilai dari sebuah produk, tapi total usaha yang dilakukan untuk memproduksinya.
Penganut teori akuntansi tradisional sering menyatakan bahwa akuntansi bukanlah sebuah proses penilaian melainkan pengalokasian biaya. Sementara itu penganut paham ekonomis menolak teori ini karena mereka hanya meyakini satu jenis biaya saja yaitu opportunity cost.
Flow of cost
Akuntan harus terus melacak aliran biaya, terutama karena adanya cost attach. Akuntan juga harus menentukan mana biaya yang sudah 'expired' untuk ditandingkan dengan income pada income statement dan mana biaya yang masih belum 'expired' untuk dimunculkan pada neraca sebagai asset. Oleh karena itu, alokasi biaya menjadi kunci utama akuntansi konvensional.
Argumen mendukung biaya historis
  1. Biaya historis relevan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sebagai manajer yang membuat keputusan mengenai komitmen masa depan, mereka membutuhkan data transaksi masa lalu. Mereka harus dapat melakukan review atas upaya masa lalu mereka dan ukuran dari upaya ini adalah biaya historis.
  2. Biaya historis didasarkan pada transaksi yang aktual, bukan hanya transaksi yang mungkin terjadi.
  3. Sepanjang sejarah, laporan keuangan berdasarkan biaya historis telah berguna.
  4. Pemahaman terbaik konsep profit adalah kelebihan dari harga jual terhadap harga perolehan/ historical cost.
  5. Akuntan harus menjaga integritas data mereka terhadap modifikasi internal.
  6. Seberapa bergunanyakah informasi keuntungan berdasarkan biaya saat ini atau exit price?
  7. Perubahan harga pasar dapat diungkapkan sebagai data tambahan.
  8. tidak ada bukti yang cukup untuk membenarkan penolakan terhadap akuntansi biaya historis.

PERSPEKTIF AKUNTANSI


CH 5 ADOPTING AN ACCOUNTING PERSPECTIVE
Pengertian perspektif secara harfiah adalah sudut pandang manusia dalam memilih opini, kepercayaan, dan lain-lain. Dalam akuntansi, perspektif merupakan cara pandang tertentu dalam memahami, mempelajari, dan mempraktikkan akuntansi.
Tujuan utama akuntansi adalah mengukur dan melaporkan kegiatan ekonomi suatu entitas. Namun, akhir-akhir ini tujuan tersebut diperluas pada kegiatan-kegiatan entitas yang mempengaruhi masyarakat dan lingkungan. Pelaporan suatu organisasi dibuat lebih dari sekedar melaporkan transaksi-transaksi ekonomi serta nilai aset dan kewajiban. Hal ini menghasilkan perubahan-perubahan yang signifikan dalam pelaporan suatu entitas, baik sektor publik maupun swasta. Perubahan-perubahan atas fungsi pembuatan laporan menyebabkan munculnya beberapa sudut pandang akuntansi. Hal tersebut disebabkan banyaknya pengguna laporan keuangan, sehingga menghasilkan pertanyaan : Sudut pandang mana yang harus digunakan dalam proses akuntansi?
SAC 2 menyebutkan tiga ketegori pengguna, antara lain:
  1. Penyedia sumber daya (pemegang saham dan pemberi pinjaman)
  2. Penerima barang dan jasa (konsumen)
  3. Pihak pengawas entitas (auditor independen, manajemen, pemerintah)
Banyaknya pengguna laporan keuangan telah menyebabkan banyaknya perspektif dalam pembuatan laporan keuangan.
Perspektif akuntansi yang diadopsi oleh entitas mengharuskan adanya asumsi-asumsi dan prinsip-prinsip mengenai batasan mengenai konsep entitas. Batasan ini dimaknai sebagai aktifitas-aktifitas yang diukur dan dilaporkan oleh suatu entitas. Pada dasarnya, untuk mengukur dan melaporkan sebuah informasi, aktifitas sebuah entitas harus didefinisikan.
Perumusan mengenai batasan sebuah entitas pelaporan telah berkembang luas untuk menyampaikan informasi kepada pihak pemangku kepentingan (stakeholders) dalam jangkauan yang luas. Informasi ini tidak hanya sekedar informasi keuangan tetapi juga informasi kualitatif mengenai dampak aktifitas suatu entitas terhadap masyarakat dan lingkungan. Pendekatan umum dalam perumusan batasan ini disebut dengan triple bottom-line reporting, yaitu pelaporan untuk mengukur kesuksesan sebuah entitas/perusahaan dilihat dari tiga kriteria, antara lain ekonomi, lingkungan, dan sosial. Konsep triple bottom-line dikembangkan oleh John Elkington, yang berargumen bahwa seharusnya sebuah bisnis juga mempertimbangkan kemakmuran ekonomi, kualitas lingkungan, dan keadilan sosial. Konsep ini juga disebut dengan konsep 3P (people, planet, profit). People (orang) berfokus pada pentingnya praktik bisnis suatu perusahaan yang mendukung kepentingan tenaga kerja. Planet (planet) berfokus pada pengelolaan yang baik atas penggunaan energi yang berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Profit (keuntungan) menekankan bahwa keuntungan tidak sekedar perusahaan mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya dengan biaya serendah-rendahnya, tetapi lebih pada penciptaan fair trade dan ethical trade.
Perkembangan teori-teori dalam akuntansi menimbulkan banyaknya perspektif dalam pelaksanaan akuntansi sebuah entitas. Berikut adalah teori-teori yang mendukung berkembangnya persepektif akuntansi:

Saturday, May 16, 2015

PEMBENTUKAN TEORI AKUNTANSI (ACCOUNTING THEORY CONSTRUCTION)


Teori Pragmatik
Pendekatan pragmatik didasarkan pada pengamatan atas perilaku akuntan atau pihak-pihak yang menggunakan informasi yang dihasilkan oleh akuntan. Teori pragmatik membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pengujian kebermanfaatan informasi baik dalam konteks pelaporan keuangan eksternal maupun manajerial.
  1. Pendekatan pragmatik deskriptif
    Pendekatan pragmatis deskriptif merupakan suatu pendekatan induktif. Perilaku akuntansi diamati terus menerus dengan tujuan untuk meniru prosedur dan prinsip-prinsip akuntansi. Teori ini dapat dikembangkan dari pengamatan bagaimana akuntan bertindak dalam situasi tertentu serta diuji dengan mengamati apakah pada kenyataannya akuntan melakukan apa yang dianjurkan oleh teori tersebut.
    Beberapa kritik terhadap pendekatan pragmatik deskriptif:
    1. tidak ada penilaian logis terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan akuntan.
    2. metode tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan perubahan, karena pendekatannya tidak berujung pangkal.
    3. dengan memusatkan pada pragmatik, perhatian cenderung dipusatkan pada perilaku-perilaku akuntan, bukan pada pengukuran atribut-atribut perusahaan seperti aktiva, hutang, pendapatan dll.
  2. Pendekatan pragmatik psikologis
    Pendekatan pragmatik psikologis merupakan pendekatan dalam membentuk suatu teori akuntansi yang didasarkan pada pengamatan atas reaksi para pengguna output yang dihasilkan oleh akuntan. Kelemahan pendekatan ini yaitu beberapa pengguna output akuntan mungkin bereaksi secara tidak logis, sedang yang lain mungkin memilik respon khusus yang sudah mereka lakukan sebelum laporan tersebut diterbitkan. Yang lainnya lagi mungkin tidak bereaksi walau mereka seharusnya bereaksi.
Teori Sintaktik
Teori sintaktik berusaha menjelaskan praktik akuntansi dan memprediksi bagaimana akuntan akan bereaksi pada situasi tertentu atau bagaimana mereka melaporkan peristiwa tertentu. Teori akuntansi sintaktik adalah teori yang berorientasi untuk membahas masalah-masalah tentang bagaimana kegiatan-kegiatan perusahaan yang telah dirumuskan secara semantik dalam elemen-elemen keuangan dapat diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. Teori sintaktik meliputi pula hubungan antara unsur-unsur yang memebentuk struktur pelaporan keuangan atau struktur akuntansi dalam suatu negara yaitu manajemen, entitas pelapor, pemakai informasi, sistem akuntansi,dan pedoman penyusunan laporan.

Teori Semantik
Teori semantik berkaitan dengan penjelasan mengenai fenomena (obyek atau peristiwa) dan istilah atau simbol yang mewakilinya. Teori akuntansi semantik menekankan pembahasan pada masalah penyimbolan dunia nyata atau realitas (kegiatan perusahaan) ke dalam tanda-tanda bahasa akuntansi (elemen statement akuntansi) sehingga orang dapat membayangkan kegiatan fisik perusahaan tanpa harus secara langsung menyaksikan kegiatan tersebut. Teori ini berusaha untuk menemukan dan merumuskan makna-makna penting pelaporan keuangan sehingga teori ini banyak membahas pendefinisian makna elemen (objek), pengidentifikasian atribut, dan penentuan jumlah rupiah (pengukuran) elemen sebagai sebuah atribut.

 

Friday, May 15, 2015

TEORI PENGUKURAN (MEASUREMENT THEORY)


Definisi
Menurut Campbell : "Penentuan angka-angka yang menggambarkan  sifat-sifat  sistem material dan bilangan-bilangan didasarkan  pada hukum yang mengatur  tentang sifat-sifat"
Menurut Stevens : "Penentuan angka-angka yang ada kaitannya dengan objek-objek ataupun peristiwa-peristiwa sesuai dengan  peraturan"
Skala dalam pengukuran
Setiap pengukuran dilakukan diatas skala. Skala diciptakan saat aturan semantik digunakan untuk menghubungkan antara pernyataan matematik dengan objek/peristiwa. Menurut Steven skala dibagi menjadi :
  1. Nominal
    Dalam skala nominal, angka hanya digunakan sebagai sebuah label. Contohnya yang diberikan oleh Stevens adalah penomoran pemain sepak bola.
    Dalam akuntansi, contoh yang paling mendekati skala nominal adalah klasifikasi aset dan kewajiban kedalam kelas-kelas yang berbeda.
  2. Ordinal
    Skala ordinal diciptakan ketika sebuah operasi memeringkatkan objek-objek berkaitan dengan sifat yang diberikan. Contoh , seorang investor memiliki tiga peluang untuk melakukan investasi dengan jumlah uang tertentu. Mereka diperingkatkan 1, 2, 3 menurut NPV (Net Present Value) dengan peringkat 1 sebagai yang tertinggi dan terendah 3. Operasi itu (penghitungan NPV) menciptakan skala ordinal, himpunan angka tersebut mengacu pada alternatif investasi.
    Kelemahan skala ordinal
    1. interval antara angka-angka (1 sampai 2, 2 sampai 3 dan 1 sampai 3) tidak menceritakan hal-hal tentang perbedaan dalam kuantitas sifat yang mereka wakili. Contoh, dalam hal (NPV), opsi 2 mungkin sangat dekat dengan opsi 1, dan opsi 3 mungkin jauh kurang dari opsi 2.
    2. angka tidak menunjukkan "berapa banyak/jumlah" atribut yang dimiliki objek.
    Torgerson berpendapat bahwa beberapa skala ordinal memiliki "natural origin", yaitu titik nol. Hal ini diterapkan pada peringkat alternatif investasi, titik nol dapat menjadi titik netral yang terletak diantara sisi positif dan negatif, sisi positifnya adalah alternatif yang menghasilkan keuntungan, dan sisi negatif adalah alternatif yang menghasilkan rugi.
  3. Interval
    Skala interval tidak hanya memberi peringkat kepada objeknya, tetapi juga jarak antara interval skala yang diketahui dan sama. Contohnya adalah pengukuran suhu ruangan dengan menggunakan thermometer celcius. Jika kita mengukur suhu dua buah ruangan, misal ruangan A dan B, dimana suhu ruangan A 22 derajat celcius dan ruangan B 30 derajat celcius, maka selain kita dapat mengatakan bahwa suhu di ruangan B lebih panas, kita juga mengetahui bahwa ruangan B lebih panas 8 derajat daripada ruangan A.
    Kelemahan dari skala interval adalah titik nol sewenang-wenang ditetapkan .
    Sebagai contoh, misalkan kita mengukur tinggi dari kelompok laki-laki pada skala interval dan menetapkan nomor ke masing-masing sesuai dengan tinggi badannya dibandingkan dengan rata-rata kelompok. Angka rata-rata mewaklili angka nol pada skala. Jika A 3cm di atas rata-rata, kemudian kita memberi dia nomor 3+. Dan jika B 5cm di bawah rata-rata, kita akan memberi dia nomor -5. Dalam skala ini, kita tidak tahu berapa tinggi A atau B. B mungkin paling pendek di kelompok, tetapi mungkin grup tersebut terdiri dari pemain-pemain basket yang tinggi.
    contoh skala interval dalam akuntansi menurut Mattessich adalah penggunaan standar biaya. standar bisa berdasar kapasitas teoritis, rata-rata, praktis atau normal. Penghitungan standar dan varians dapat menciptakan skala interval. jika varian nol maka ini menunjukkan netralitas, meskipun titik netral ini dipilih secara seenaknya.
  4. Rasio
    Skala rasio adalah skala yang :
    1. Memberikan peringkat kepada objek atau kejadian
    2. Interval antar objek diketahui dan sama
    3. Asal yang unik, titik nol yang alami, dimana jaraknya terhadap paling tidak satu objek lainnya diketahui.
    Contoh skala rasio dalam akuntansi adalah penggunaan dolar untuk mewakili biaya dan nilai. Jika aset A biayanya $ 10.000 dan aset B biaya $ 20.000, kita dapat menyatakan bahwa biaya B dua kali lipat A. titik 0 ada, karena menunjukkan tidak adanya biaya atau nilai, seperti 0 untuk panjang berarti tidak ada panjang sama sekali.

Tuesday, March 31, 2015

PENALARAN (REASONING)


REASONING/PENALARAN
Resume Buku Suwardjono (2005) Bab II

Pengertian
Menurut Nickerson : "Reasoning encompasses many of the processes we use to form and evaluate beliefs – beliefs about the world, about people, about the truth or falsity of claims we encounter or make. It involves the production and evaluation of arguments, the making of inferences and the drawing of conclusions, the generation and testing of hypotheses. It requires both deduction and induction , both analysis and synthesis, and both criticality and creativity
Menurut Suwarjono: "Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan (beliefs) terhadap suatu pernyataan atau asersi

Unsur dan Struktur Penalaran
Struktur dan proses penalaran dibangun atas dasar 3 konsep penting yaitu :
  1. Asersi, adalah suatu pernyataan (biasanya positif) yang menegaskan bahwa sesuatu adalah benar    
  2. Keyakinan (beliefs), adalah tingkat kebersediaan(willingness) untuk menerima bahwa suatu pernyataan atau teori mengenai suatu fenomena adalah benar
  3. Argumen, adalah serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan inferensi atau penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan